SEJARAH
LAHIRNYA ILMU NAHWU & BIOGRAFI
IMAM IBNU
MALIK AL ANDALUSI
SEJARAH LAHIRNYA ILMU NAHWU
Dikisahkan tentang sebab
Abu Aswad Al duali mencetuskan ilmu ini bahwasanya, pada
suatu malam beliau berada diatas rumahnya bersama dengan putrinya kemudian ia melihat
langit dan bintang-bintang yang indah yang cahayanya berkilauan beserta gelapnya
malam lalu ia berkata “duhai ayahku “"مَا
اَحْسَنَ السَّمَاءِ (apa yang paling indah di langit?) dengan mendomahkan nun dan
mengkasrohkan hamzah lalu beliau menjawab اي بنية نجومها wahai putri kecilku bintang-bintangnya sembari beliau menyangka
maksud putrinya adalah apakah sesuatu yang paling indah di langit ? namun ia menyanggah
(يا
ابت ما اردت هذا) duhai ayahku, aku tidak
bermaksud ini (bertanya pada ayahnya) hanya saja maksudku adalah kagum kepada
keindahan langit
Maka sang ayah pun berkata : “ kalau seperti
itu ucapkanlah (ما احسن السماءَ), betapa indahnya langit ‘’
Bukalah
mulutumu ( dengan mengfathahkan hamzah dan nunnya )
Keesokan harinya beliau
berangkat menuju sahabat Ali K.W dan
berkata kepadanya : “ Wahai amirul Mu’minin , telah terjadi pada anak anak kita
sesuatu yang tidak kita ketahui” lalu beliaupun menceritakan tentang kisahnya
dengan putrinya, maka sang kholifah pun menjawab (هذا
بمخالطة العجم العرب) kejadian ini adalah
sebab dari percampuran ajam ( orang yang bukan arab ) dengan orang Arab.
Kemudian sang
kholifah memerintahkan kepadanya lalu beliau pun memberi kertas / lampiran
setlah beberapa hari sang Kholifah pun men-diktekan kepada beliau
(جاء
لمعنى اقسام الكلام ثلاثة اسم وفعل وحرف) Pembagian kalam ada 3 yaitu : Isim , Fi’il , Huruf yang
berma’na dan sejumlah bab Ta’ajub ( Bab ungkapan kekaguman )
Sang kholifah
juga berkata kepada beliau (اُنْحُ نَحْوَ هَذَا ) Ikutilah jalan / jejak ini (makna secara bahasa) maka dari
itu ilmu ini dinamakanilmu Nahwu
Kemudian
akhirnya sang kholifah mengatakan kepada Abu al-Aswad adduali :
تتبعه يا ابا الاسود وزد عليه ما وقع
لك واعلم يا أبا الاسود أن الاشياء ثلاثة ظاهر ومضمر وشيئ ليس بظاهر ولا مضمر
Susulkanlah jalan ini wahai
Abu aswad, dan tambahlah sesuatu yang terjadi padamu.
Ketahuilah wahai Abul aswad ; sesungguhnya
sesuatu perkara itu ada 3 ;) yang nampak( ظاهر yang tersimpan (
مضمر )dan sesuatu yang tidak nampak dan tidak tersimpan
(ما ليس بظاهر ولا مضمر )
hanya saja keutamaan manusia terletak pada pengetahuannya tentang sesuatu yang
tak tampak dan tak tersimpan
Beliau pun
berkata “ telah aku kumpulkan sesuatu / perkara perkara dari 3 bagian itu , dan
telah aku paparkan 3 bagian tersebut kepadanya ( Sang kholifah )
Termasuk
diantaranya ,
- Huruf – huruf nasab ( menasabkan isim dan merofakan khobar )
Diantaranya : ان , أن, ليت ,لعل danكأن
. aku tidak menyebutkan لكن, lalu beliau bertanya kepadaku : لم
تركتها ؟, mengapa
kamu meninggalkannya ?
Aku pun
menjawabnya : aku tidak menyangkaلكن
termasuk dari huruf – huruf nashob. Lalu sang Kholifah berkata :فزدها
بل هي منها , Bahkan
لكن termasuk
darinya (huruf-huruf Nashab) maka tambahlah لكن
Kemudian datang
kepada Abu al-aswad seseorang laki-laki yang membacakan ayat :
"ان الله بريئ من المشركين ورسوله
"
“ Sesungguhnya
Allah dan rosulnya terlepas / bebas dari orang orang yang menyekutukannya “
dengan mengkasrohkan lafadz رسوله maka dari itu beliau menetapkan Bab Athaf dan Bab Na’at.
Anjuran Belajar Lughot Arabiyah (Nahwu)
Ketahuilah bahwa telah
datng hadist hadist yang mulia dan atsar atsar yang menunjukan tentang anjuran
untuk belajr lughot arabiyah (gramatika bahasa arab/tat bahasa arab )sebagian
diantarnya :
- sabda nabi : ان الله لا يسمع دعاء ملحونا sesungguhnya allah tidak mengabulkan doa yang keliru irobnya (dilahn)
dan ulama tidak mengesahkan sholat di belakangnya imam yang lahn (bacaannya
keliru dalam irobnya )
- juga diantaranya hadist yang diriwayatkan oleh almarhibi dari abi
jafar muhamad al baqir bin ala bin husein bin ali bin abi thalib ra
sesungguhnya ia telah berkata
Rasullullah saw telah bersabda “أعربوا الكلام كي تعربوا القرآن“ indahkanlah ucapan kalian supaya kalianmengindahkan
alquran
-almurhibi juga meriwayatkan dari ibnu umar ra ,dia berkata
:umar lewat bertemu dengan suatu kaum yang melepaskan busur panahnya lalu
keliru (tidak mengenai sasaran)kemudian beliau berkata:
“ ماأسوأ
رميكم” betapa jeleknya lemparan kalian, merekapun menjawab , kita
adalah orang yang belajar lalu beliau berkata :”lahn kalian (kekeliruan dalam
irob) lebih buruk dari pada lemparan kalian, aku mendengar rosul saw bersabda : ”رحم الله امرأ أصلح من لسانه” allah mengasihi seseorang yang
sikap/bagus lisan (tutur katanya)
-albaihaki meriwayat kan dari umar bin khotob radia berkata
belajarlah kalian tentang sunah dan fardlu fardlu dan lahn (kesalahan dalam
irob )seperti halnya kalian belajar tentang alquran
-albaihaqi juga meriwayatkan dari ibnu abbas dan ibnu umar bahwa
mereka berdua memukul anak anaknya karena sebab lahn
- abu thohir meriwayatkan dari al syibi bahwa abu bakar asshidiq
ra berkata sungguh bila aku membaca lahu memotong bacaanya adalah lebih aku
suka dari pada aku membaca lalu keliru (lahn) dalam irobnya
- didalam kitab syu’bul imam al baihaqi meriwayatkan dari syu’bah
bahwa dia berkata (syubah) telah berkata apa bila muhadits (ang ahli hadits)
tidak tahu iolmu nahwu maka ia seperti himar (keledai) terdapat diatasnya
kantong yang tidak ada gandumnya
- albaihaqi juga meriwayatkan dari abi al zannad dia dari
ayahnya bahwa beliau (ayahnya) berkata:” tidak menjadi zindiq (pura-pura islam)
orang yang telah zindiq kecuali karena bodoh tentang kalam arab (ilmu nahwu)
- ibnu mubarok berkata :” tidak diterima seseorang dari satu
macam dari ilmu-ilmunya selam dia belum menghiasi ilmunya dengan arrabiyah
(ilmu nahwu) atas dasr bahwa ada seorang laki-laki dan saudaranya melapor
kepada ziyad tentang urusan warisan kemudian dia (laki-laki tersebut) berkata :
” ان أبونا مات وان أخينا وثب على مال أبان فأكله “
Lalu dijawab oleh ziyad: sesungguhnya sesuatu yang telah kamu
jatuhkan dari dirimu (kehormatan) lebih berbahaya dari pada sesuatu yang telah
kau jatuhkan dari hartamu . (karena kekeliruan dlm berkata)
- adapun sang qodhi (hakim) telah berkata kepadanya :
لا رحم الله أباك ولا جبر عظم أخيك فم فى لعنة
الله وحر سقر “ allah tidak mengasihi
ayhmu dan tidak membetulkan tulang patah saudaramu, berdirilah dalam laknat
allah ddan sangatlah panas neraka saqar.
- imam jalaludiin al suyuti berkat dalam kitab syarah alfiyyahnya :
telah sepakat para ulama atas sesungguhnya ilmu nahwu di butuhkan dalam setiap
(fan) bidang dari fan-fannya ilmu, apa lagi tafsir dan hadits maka sesungguhnya
tidak diperbolehkan bagi orang yang hendak membaca kitabullah (al quran)
sehingga ia menguasai arrabiyyah (bahasa arab dan gramatikanya) karena alquran
itu bahasa arab dan tidak bisa memahami maksud-maksud alquran kecuali hanya
dengan mengetahui kaidah-kaidah atau dasar-dasar arrabiyah sama halnya ilmu
hadits
- ibnu al sholah mengatakan “seharusnya bagi muhadits (orang yang
ahli hadits) tidak meriwayatkan hadits dengan bacaanya orang yang lahn (keliru
dalam bacaanya atau irobnya)
Kemudian di riwayatkan dari abi dawud beliau berkata : saya
mendengarkan al ashmui mengatakan bahwa sesungguhnya paling ditakutkan sesuatu
yang di khawatirkan kepada orang yang mencari ilmu ketika tidak mengetahui ilmu
nahwu akn masuk pada sabda nabi saw : من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار “barang siapa yang berbohong kepadaku
secara sengaja maka hendaklah menempati tempatnya dari neraka “.
Karena nabi saw tidak
lahn (keliru dalam bacaanya atau irobnya) maka ketika kamu meriwayatkan hadits
dari beliau lalu kamu lahn dalam meriwayatkanya maka kamu telah berbohong
kepada beliau
Telah berkata sebagian
ulama : (بحر الرجز)
من فاته النحو فذاك الاخرس ٭ وفهمه فى كل علم
مفلس
وقدره بين الورى موضوع ٭ وان يناظر فهو المقطوع
لا يهتدى لحكمة فى الذكر ٭ وما له فى غامض من
فكر
والله سبحانه وتعالى اعلم اه شيخنا السيد عثمان شطا
تلميذ المؤلف.
-orang yang meninggalkan ilmu nahwu maka orang itu adalah orang
yang bisu ٭ dan kefahamanya kepada setiap ilmu bak orang yang bangkrut
-derajat pangkatnya diantara manusia
direndahkan ٭ dan bila ia berdebat
maka dia dibantahkan
-dia tidak menerima petunjuk pada hikmah didalam nasihatnya ٭ dan tiada fikiran
baginya tentang
sesuatu yang sulit
Allah maha suci
dan maha tinggi lagi maha mengetahui ,selesai
Syaikhuna
assayyid utsman syatha murid penyusun (syaikh ahmad zaini dahlan)
Biografi Imam Ibnu Malik
Nama
lengkap:
Ibnu
malik adalah syekh al alim al-allamah jamaluddin abi abdillah muhammad ibnu
abdillah ibnu malik al tha’i al jayyani al andalusi. Lahir di jayyan
(jaen)daerah ini adalah sebuah kota kecil di bawah kekuasaan andalusia
(spanyol)sekarang, pada tahun 600 H/1180 M dalam sumber lain mengatakan tahun
605 H/1181 M juga ada yang mengatakan beliau lahir pada tahun 597 H/1177 M dan
wafat pada tanggal 18 Sya’ban,menurut qil tanggal 12 Sya’ban 672 H/1252 M dalam
usia 72 tahun keterangan lain menyebutkan 75 tahun beliau dikebumikan di
pemakaman umum kota Damaskus
Negeri Andalus, sebagian ada yang membaca Andalas
merupakan
salah satu provinsi di Spanyol dengan luas wilayah kira-kira 442 km yang masuk dalam
otonomi andalusia yang dulunya berada di semenanjung Iberia daerah ini terkenal
karena keseburan tanah,sedikitnya hewan melata,iklim yang sedang,dan banyak
buah-buahanya,apabila ditempuh dari Syam (Syiria) sekarang akan melewati 40 sungai besar dan kota-kota besar yang juga
banyak jumlahnya dan benteng-benteng yang pertahanan penduduk serta desa-desa
kecil yang banyak,untuk menuju kota ini memerlukan waktu sehari karena
perjalananya menempuh 2 farsakh /6 mil dan melewati perairan.
pada saat itu, negeri ini dihuni oleh kaum
muslimin yang sangat cinta kepada ilmu dan mereka berpacu dalam menempuh pendidikan
bahkan berpacu pula dalam mengarang buku-buku ilmiah sehingga banyak pula
ilmuan islam atau ulama lahir dari negri ini selain Ibnu malik mereka juga
sangat kuat sehingga musuh dari luar tidak bisa masuk apalagi menguasai mereka
bahkan musuhpun takut kepada mereka,banyak musuh –musuh islam yang akhirnya
minta perlindungan keamanan kepada penduduk andalusia tetapi,kekuatan meraka
kian luntur lantaran terjadi kesalahfahaman diantara mereka sendiri yang
sehingga satu sama lain saling membuat fitnah dan permusuhan.dan situasi
seperti ini difahami oleh musuh – musuh islam yang sudah sejak lamaingin
menguasai daerah yang subur ini dan permusuhan,fitnah dan konflik ini justru
oleh para musuh dibuat kesempatan untuk mematahkan kekuatan kaum
muslimin,mereka bisa masuk melaluibeberapa celah –celah yang kelihatan kosong
dan memanfaatkan situasi konflik intern kaum muslimin dan akhirnya musuh-musuh
islam itu dapat menguasai negri ini bahkan sebagian dari mereka ada yang diusir
dari Andalus dan ada yang pindah ke daerah yang lain.
pada
masa kecil ibnu malik menuntut ilmu di daerahnya,terutama belajar pada syaikh
syalubini (w.645 H)
Setelah menginjak dewasa,ia berangkat ke
timur untuk menunaikan ibadah haji dan diteruskan menempuh belajarnya di
damaskus sampai beliau mengajar dan mukim di sana.di negeri syam ini ia belajar
ilmu dari beberapa ulama setempat,diantaranya:
Al
syakhowi (w.643 H) ,syaikh ibnu ya’isy alhalabi (w.643 H) ,syekh hasan bin
shabbah,syekh ibnu abi sharq,syekh ibnu najaz almaushili,syekh ibnu hajib,syekh
ibnu amrun,syekh muhammad bin abi fadhol almursi.
Di Damaskus dan Aleppo (halab) nama beliau
mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuan karena cerdas dan pemikiranya yang
jernih,ia banyak menampilkan teori-teori nahwiyyah yang menggambarkan teori
madzhab andalusia ,yang jarang diketahui oleh orang-orang syiria waktu itu.
Teori
semacam ini banyak diiukuti olehmurid-muridnya spt,imam nawawi,ibnu
alathor,almizzi,aldzahabi,alshairofi,dan qodhi al qudhot ibn jamaah.untuk
menguatkan teorinya,beliau senantiasa mengambil saksi (syahid) dari teks-teks
al-quran.kalau tidak didapatkan ,ia menyajikan teks alhadits kalau tidak
didapatkan lagi,ia mengambil dari syair-syair sastrawan kenamaan arab,semua
pemikiranya yang diproses melalui paradigmaini dituangkan dalam kitab-kitab
karangannya,baik berupa nadzam (syair puitis) atau berbentuk natsar (prosa)
pada umumnya,karangan tokoh ini lebih indah dari tokoh-tokoh pendahulunya.
Sarjana
besar kelahiran eropa ini memiliki semangat yang besar dalam mengajarkan ilmu
yang ia miliki.ketika ia menghadiri majlisnya yang kadang belum dihadiri
murid-muridnya,maka beliau berdiri di jerjak jendela dan berteriak
“qiro’ah,qiro’ah,arabiyah,arabiyah” (maksudya memanggil siapa siapa saja yang
ingin belajar ilmu qiro’ah dan ilmu arabiyyah kepada beliau) bila ternyata
tidak ada yang hadir maka berdoa dan segera pergi dengan berkata “saya tidak
tau untuk membebaskan tanggunganku kecuali dengan cara ini,karena kadangkala
tidak ada yang tau kalau saya duduk di sini”
Walaupun
beliau ahli qiro’ah,namun tidak diketahui murid murid beliau dalam ilmu
qiro’ah. ibnu jazari mengatakan”ketika beliau masuk kota aleppo (halab) banyak
para ulama yang mengambil ilmu arabiyyah dari beliau,tetapi saya tidak
mengetahui seseorangpun yang membaca ilmu qiro’ah di hadapanya dan saya juga
tidak mempunyai sanad ilmu qiroah kepada beliau”kemunkinan besar ilmu qiro’ah
beliau ajarkan di selain kota aleppo
Diantara
murid –murid beliau adalah;
Syekh
muhammad badrudin, putranya sendiri (w.686 H)
Imam
nawawi,ibnu ja’wan,ibnu munajjy,al yunaini,bahaudin bin nuhas,syihabuddin
asy-syughuri,ibnu abi fath al-ba’li,alfarizy,ibnu hazim al-azra’i,ibnu tamam
at-talli,madjuddin al-anshori,ibnu atthor,’alauddin al-anshari,abu tsana’
alhalabi,abu bakar al-mizzi,ibnu syafi’,badaruddin bin jama’ah,ibnu
gharim,al-birzali,ibnu harb,ash-shairofi,dll
Untuk
murid beliau yaitu imam nawawi,sempat diabadikan dalam nadzom kitab alfiyyah
beliau pada bait:
ورجل من الكرام عندنا
“dan seorang laki-laki dari orang – orang mulia di sisi kami”
(imam nawawi)
Kitab alfiyyah ibnu malik
Salah
satu kitab karya beliau yang paling tersohor adalah kitab alfiyyah,sebuah kitab
yang berbentuk nadzom terdiri dari 1002 bait yang menjelaskan tentang ilmu
nahwu dan shorof.kitab ini dipelajari di seluruh dunia sampai saat ini.kitab
ini merupakan ringkasan dari kitab karangan beliau sendiri yaitu al-kafiyyah
asy-syafiyyah yang terdiridari dari 2757 bait oleh karena itu kitab al fiyyah
juga disebut dengan al khulashoh yang berarti ringkasan
Kitab
ini terdiri dari 80 bab dan setiap babnya terdiri dari beberapa bait,bait yang
terpanjang adalah bab Jama’taksir karena diisi 42 bait,kitab syair (puisi)
memakai bahar rojaz ini dengan tujuan diantaranya:
1.
menghimpun semua permasalahan nahwu dan shorof yang penting
2.
menerangkan hal-hal yang rumit dengan bahasa yang singkat,padat dan
akurat serta bisa menghimpun kaidah yang berbeda-beda,atau dengan sebuah contoh
yang bisa menggambarkan suatu persyaratan yang diperlukan oleh kaidah tersebut
3.
membangkitkan perasaan senang dan semangat bagi orang yang ingin
mempelajari isinya.
Diantara
ulama ada yang menghimpun tulisan beliau,ternyata tulisan karyanya banyak yang
berbentuk nadzom,seperti yang dikatakan imam as-suyuti dalam kitabnya Bughyat
alwu’at diantara karanganya adalah nadzom al kafiyyah al syafiyyah. Kitab ini
menyajikan semua informasi tentang ilmu nahwu dan shorof yang diikuti oleh komentar
(syarah) yang banyak ditulis oleh para ulama setelahnya,Kitab alfiyyah yang
banyak diterjemahkan ke dalam banyak
bahasa di dunia ini memeliki posisi penting dalam perkembangan ilmu
nahwu,berkat kitab ini dan kitab aslinya nama beliau menjadi popular, dan
pendapat beliau banyak diikuti oleh beberapa ulama,termasuk ulama yang
mengembangkan ilmunya di Timur.al-raudli seorang cendikiawan besar ketika
menyusun syarah al kafiyyah karya ibnu hajib,banyak mengutip mempupolerkan
pendapat ibnu malik dengan kata lain perkembangan ilmu nahwu setelah ambruknya
beberapa akademisi Abbasiyyah di baghdad ,maka para pelajar pada umumnya
mengikuti pemikiran ibnu malik bahkan sebelum kerajaan Andalusia runtuh,pelajaran
nahwu pada awalnya tidak banyak diminati masyarakat
Kitab
alfiyyah ini banyak disyarahi oleh para ulama, dalam kitab kasyf al-dzunun,Haji
kholifah mengatakan bahwa para ulama penulis syarah alfiyyah berjumlah lebih
dari 40 orang mereka ada ada yang menulis dengan panjang lebar,ada juga
yang menulis dengan singkat (mukhtashor)
dan ada pula ulama yamg tulisanya belum selesai dan ada pula yang memberikan
catatan pinggir (hasyiyah) terhadap syarah-syarah alfiyyah
Kitab
ini juga sengaja beliau tulis untuk putra tercintanya sebagai hadiah untuknya
ada lagi yang mengatakan untuk murid kesayanganya.
Diantara
syarah-syarah kitab alfiyyah adalah:
·
Syarah alfiyyah yang ditulis oleh putera beliau sendiri yaitu syekh
Muhammad badruddin (w.686 H) dengan nama kitab Durrotul mudhi’ah.ini merupakan
kitab syarah alfiyyah pertama kali
ditulis,syarah ini banyak mengkritik pemikiran nahwiyyah yang diuraikan oleh
ayahnya,seperti kritik tentang uraian maf’ul mutlaq,tanazu’dan shifat
mutasyabihat. Kritikan itu aneh tapi,putranya ini yakin bahwa tulisan ayahnya
perlu ditata ulang lagi,atas dasar itu Syekh Badruddin mengarang alfiyyah tandingan
dan mengambil syahid dari ayat al-quran dari situ tampak rasional juga tetapi
semua ilmuan tahu bahwa tidak semua teks alqur’an bisa disesuaikan dengan teori-teori nahwiyyah yang sudah
dianggap baku oleh para ulama.
Kritikus yang
pada masa mudanya bertempat di Ba’labaik ini,sangat rasional dan cukup beralasan
hanya saja ia banyak mendukung teori-teori nahwiyyah yang syadz karena itu
penulis syarah alfiyyah yang muncul berikutnya seperti ibnu hisyam ,ibnu
aqil,dan al asymuni banyak yang meralat alur pemikiran putra ibnu malik
tadi,meskipun begitu syarah Badruddin ini cukup menerik,sehingga banyak ulama
besar yang menulis hasyiyah untuknya,seperti karya ibn jama’ah (w. 819
H),al-ainy (w. 855H),Zakariya al anshori (w.1911 H),al suyuthi (w.911 H) ibn
qosim al-abbadi (w.944H) dan Qadhi taqiyyudin ibn abdul qodir al-tamimy (w.
1005H).
·
Al-murodi (w. 749 H) beliau adalah murid ibnu hayyan,beliau juga
menulis dua kitab syarah untuk kitab tashil alfawaid dan nadzam
alfiyyah,keduanya karya ibnu malik.meskipun syarah ini tidak popular di
Indonesia tetapi pendapat-pendapatnya banyak dikutip oleh ulama
lain,diantaranya al-damaminy (w. 827H) seorang sastrawan besar ketika menulis
syarah tashil al fawaid menjadikan karya al-murodi itu sebagai rujukan.begitu
pula alasmuny ketika menyusun syarah alfiyyah dan ibnu hisyam ketika menyusun
almugni banyak mengutip pemikiran beliau
·
Ibnu hisyam (w.761 H)beliau adalah ahli nahwu raksasa yang
karya-karyanya banyak dikagumi oleh ulama berikutnya. Diantara karyanya itu
syarah alfiyyah yang bernama audhah al-masalik yang terkenal dengan sebutan al
audhah.dalam kitab ini ia banyak menyempurnakan definisi suatu istilah yang
konsepnya telah disusun oleh ibnu malik,seperti definisi tentang tamyiz,ia juga
banyak menrtibkan kaidah –kaidah yang satu sama lain bertemu,seperti kaidah
dalam bab tashrif tentu saja,ia tidak terpaku dengan madzhab andalusia tetapi
juga mengutip madzhab kufah,bashrah dan lainya. kitab ini cukup menarik
sehingga banyak ulama besar yang menulis hasyiyah untuknya,antara lain putra
ibnu hisyam sendiri,imam al-suyuthi,ibnu jamaah al- ainy,al karkhi,al-sa’di
al-maliki al-makki,muhammad muhyiddin abdul hamid dengan tiga syarhnya terhadap
kitab audahahul masalik dan yang lebih menarik lagi adalah catatan kaki (ta’liq)
bagi kitab al-taudhih yang disusun oleh kholid ibn abdullah al-azhari (w. 905
H) dengan nama al-tasrih li madmun al-taudhih
·
Ibnu aqil (w.769 H) adalah ulama kelahiran aleppo dan pernah
menjabat sebagai penghulu besar di mesir.karya tulisnya banyak,tetapi yang terkenal
adalah syarah alfiyyah,syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh
orang-orang pemula yang ingin mempelajari Alfiyyah ibn malik.Ia mampu
menguraikan bait-bait Alfiyyah secara metodologis,sehingga terungkaplah apa
yang dimaksudkan oleh ibnu malik pada umumnya.syarah ibnu Aqil ini merupakan
syarah Alfiyyah yang paling banyak beredar dan dipelajari oleh kaum santri di
Indonesia ,terhadap Syarah ini,ulama berikutnya tampil menulis hasyiyahnya
diantaranya;Hasyiyah ibn al-mayit,athiyah al-ajhuri,al-syuja’i dan muhammad al-khudhori
·
Al-asymuny (w. 929 H) bernama manhaj salik ila alfiyah ibn
mlik.syarah ini sangat kaya akan informasi dan sumber kutipanya sangat
berfariasi. Kitab ini dapat dinilai sebagai kitab nahwu yang paling komplit dan
sempurna ,karena memasukan berbagai pendapat madzhab debgan argumentasinya
masing –masing. Dalam syarah ini pendapat para penulis Syarah alfiyyah
sebelumnya banyak dikutip dan dianalisa antara lain mengulas pendapat putra ibn
malik ,al-muradi,ibn Aqil,al-suyuthi dan ibn hisyam bahkan dikutip pula
komentar ibn malik sendiri yang dituangkan dalam syarah al-kafiyyah tetapi,tidk
dicantumkan dalam Alfiyyah.semua kutipan –kutipan itu diletakan pada posisi
yang tepat dan disajikan secara rapi dan sistematis,sehingga para pembaca mudah
memahami dan menelusuri suatu pendapat dari sumber aslinya.kitab ini memiliki
banyak hasyiyah juga antara lain ; hasyiyah hasan ibn ali
al-mudabbighi,hasyiyah ahmad ibn umar al-asqathi dan hasyiyah al-shabban (4
jilid)
·
As-syathibi (w. 790 H) dengan nama kitabnya Madashid al-syafiyyah
fi syarh khulashoh al-syafiyyah.kitab ini merupakan kitab syarah al-fiyyah yang
paling besar.
·
Ibnu hayyan (w. 745 H) penulis kitab bahrul muhit. Beliau sempat
semasa dengan ibn malik namun tidak sempat berguru dengan murid-murid ibn
malik,kitab beliau bernama manhaj as-salik fi al-kalam ‘ala alfiyyah ibn malik
·
Al-makudi (w. 780 H) Beliau mensyarahi Alfiyyah dua kali; kecil dan
besar,yang dicetak saat ini adalah yang kecil yang diberi nama Hasyiyah ibn
hamdun.
·
Imam al-suyuthi(w. 911 H) dengan kitab mungilnya,Bahjatul
Mardliyyah
·
Ibn Thulun
·
Syarah al-harowy
·
Syarah ibnu jazary
·
Dll
Selain itu ada
juga yang ulama yang menulis i’rob dari nadzom alfiyyah seprti kitab Tamrin
al-tulab karya Syekh khalid al azhari (w. 905 H)
Karya lain ibn
malik selain kitab alfiyyah antara lain;
· Al-kafiyyah
al-syafiyyah dan syarahnya dalam bidang kaidah shorof (kitab asal khulashoh)
· Tashil
al-fawaid wa takmil al-maqoshid dan syarhnya dalam bidang nahwu
· Ijaz al-tasrif
fi ilmi al tashrif
· Tuhfatul maudud
fi al-maqshur wa al-mamdud
· Lamiyatul af’al
· Al-i’tidhad fi
adh-dha wa azh-zha
· Al a’lam
· Kamalul umdah
dan syarahnya
· Fawaid
al-mahwiyyah wal maqoshid al nahwiyyah
· Qoshidah
al-thaiyyah
· Syawahid
at-taudih li musykilat al-jam’i as-shahih,merupakan syarah nahwu dari 100
hadits yang ada di shahih bukhari
IBNU
MALIK DAN IBNU MU’THI
Ada
kisah menarik tentang penyusunan kitab alfiyyah ibnu malik,ktika beliau memulai
menulis nadzomnya pada saat sampai nadzom
فائقة الفية ابن معطى
(kitab alfiyyah yang aku
tulis ini) mengungguli kitab alfiyyah karya ibnu mu’thi
Kemudian beliau
menambahkan lagi;
فائقة منها بالف بيت
‘’mengugguli
dari alfiyyah ibnu mu’thi dengan seribu bait”
Sampai pada
kalimat ini ,ibnu malik kehilangan inspirasi untuk melanjutkan nadzomnya.
beliau berusaha melanjutkanya namun,hingga sampai beberapa hari belum juga bisa
beliu menyempurnakan sampai pada suatu malam beliu bermimpi bertemu dengan
seseorang kemudian orang itu bertanya kepada beliau; aku dengar kamu mengarang
kitab alfiyyah dalam ilmu nahwu.
Beliau
menjawab;’’iya benar “
Orang itu
bertanya lagi; sampai pada nadzom mana engkau menulisnya?
Beliau menjawab
lagi; فائقة الفيةابن معطى
orang itu
bertanya lagi;apa yang menyebabkanmu tidak menyempurnakannya?
Beliau
menjawab; sudah beberapa hari aku tidak bisa melanjutkan menulis nadzom.
Orang itu
bertanya lagi ; apakah kamu ingin menyempurnakanya?
‘’tentu” jawab
ibnu malik
Kemudian orang
itu berkata;فائقة منه بالف بيت والحي قديغلب الف بيت
“mengungguli
dari alfiyyah ibnu mu’thi dengan seribu bait”
“dan orang
hidup terkadang bisa mengalahkan seribu orang mati”
Terpengarahlah
ibnu malik dengan perkataan itu,
lalu beliau
bertanya; apakah anda ibnu mu’thi?
‘’betul” jawab
orang itu
Dan ibnu malik
pun merasa malu kepada beliau.
Keesokan harinya
beliau mengapus bait yang tidak sempurna itu dan mengganti dengan bait yang
lain yang isinya memuji kehebatan ibnu mu’thi
Yaitu; وهو بسبق
حائز تفضيلا مستوجب ثنائي الجميلا
“beliau (ibnu
mu’thi) lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal “
“beliau berhak
atas sanjunganku yang indah”
والله يقضي بهبات وافرة * لي
وله في درجات الاخرة
“Semoga allah
menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat –derajat
yang tinggi di akhirat”
Ibnu mu’thi
sendiri adalah al-imam Abu zakariya yahya bin Mu’thi al-Zawawi al-Maghribi.
Iahir di
Maghribi dan menetap dalam masa yang cukup lama di negeri Syam
(Syiria),kemudian melakukan perjalanan ke Mesir sehingga beliau wafat pada 628
H,umurnya ketika itu sekitar 64 tahun dan dikebumikan dekat dengan kuburan Imam
syafi’i di Mesir
Setelah
alfiyyah ibnu malik ada Imam suyuthi yang juga mengarang kitab nadzom nahwu
yang melebihi alfiyyah ibnu Malik,pada muqoddimahnya beliau berkata;
فائقة الفية ابن مالك
“(alfiyyah saya
ini )mengungguli alfiyyah ibnu malik”
Untuk
selanjutnya masih ada ulama lagi yang mengarang nadzom nahwu yang melebihi
nadzom imam suyuthi dan beliua juga berkata:
فائقة الفية السيوطي
“(alfiyyah saya
ini) mengungguli dari alfiyyah imam suyuthi”
Namun kedua
alfiyyah yang terakhir ini tidak sepopuler Alfiyyah ibnu Malik.
Keistimewaan
Dan Keutamaan Imam Ibnu Malik
beliau
adalah seorang kepala madrasah Al’adiyyah di Damaskus sedangkan muftinya pada
waktu itu adalah Qodhil qudhat(hakim besar) adlah ibnu khallikan seorang ulama
ahli sejarah beliau sholat di belakang imam ibnu malik dan selalu memegang
tanganya kemudian diantarkan sampai keruanganya, semuanya dilakukan karena
mengagungkan derajat imam ibnu malik
sebagian
dari sifat wira’inya beliau tidak pernah membaca dalam keadaan hadats dan apabila
membacakan ilmu kepada muridnya punggung beliau menghadap kepada muridnya dan
beliau menghadap ke kiblat kerena beliau mengikuti gurunya syekh ibnu hajib
termasuk
ketekunan beliau, pernah terjadi pada suatu hari
beliau keluar bersama dengan sekelompok pelajar ketika sampai di tempat yang
dituju dan mereka bermaksud melakukan diskusi pembahasan dan dialog ternyata mereka
tidak menemukan imam ibnu malik kemudian setelah dicari ternyata beliau
menyendiri dari para teman-temanya sementara beliau mengamati dedaunan untuk
melakukan penelitian.