Fathul Mu'in: Kitab Karya Ulama Shufi yang sangat Barokah
oleh: kang EMHA elfaza
Dikalangan santri, terutama para pemerhati Turots Islami
tentunya tidak asing lagi sebuah kitab yang bernama Fathul Mu’in, sebuah kitab
yang dikarang oleh seorang Ulama yang begitu Alim dan tokoh Shufi yang terkenal
manjur Do'anya yaitu Syeh Zainuddin bin Muhammad al Ghozaly al Malibary .
Kitab Fathul Mu'in merupakan salah satu karya monumental
ulama muta’akhirin dari kalangan Syafi’iyah yang menjadi standar kitab bagi
pesantren di Indonesia. Bahkan di beberapa pesantren, kitab tersebut sebagai
tolok ukur santri dalam penguasaan kitab Salaf. Sebuah Kitab kecil yang banyak
sekali memiliki keunggulan dibanding kitab-kitab lain dan diajarkan hampir di
semua pesantren yang berhaluan Ahli Sunnah syafi’iyah di Dunia terutama di negeri ini.
Kitab Fathul Mu'in adalah Kitab Syarah Qurrotul 'Ain Fi
Muhimmatu al Din, sebuah Syarah yang menjelaskan ma'na murod, menghasilkan
maksud dan menjelaskan bebarapa faidah, sebagaimana di jelaskan dalam
muqoddimah kitab tersebut.
Kitab Qurrotul 'Ain sendiri merupakan karya Syeh Zaenudin al
Malibari sendiri, sebuah kitab yang sangat barokah, sebagaimana pengakuan dari
Syeh Bakri Satho dalam Hasyah I'anahnya, karena kitab ini telah di do'akan oleh
pengarangnya yang mustajab do'anya supaya kitab ini membawa manfaat bagi para
pembacanya
Biografi Zainuddin Al-Malibari pengarang kitab Fathul Muin
Nama: Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz bin Zainuddin bn
‘Ali Al Malibari Al Fannani Asy Syafi’i.
Nama lain: Makhdum Thangal, Zainuddin Al Tsani
Tempat lahir: Malabar, India Selatan
Tanggal lahir: tidak diketahui
Tanggal wafat: 972 H atau 987 H / 1579 M
Tempat wafat: Funnan / Ponani, Indian
Karya tulis:
1. Qurratul ‘Ain ( Fiqih syafi’i lengkap yang masih
berbentuk matan).
2. Fathul Mu’in , adalah syarah dari kitab Qurratul ‘ain
yang disyarahkan langsung oleh pengarang sendiri , hal ini biasa dilakukan para
ulama’ diantaranya imam zakariyah al-Ansari (W. 925 H ) terhadap kitabnya Fathul
Wahhab dan Tuhfatut Tullab . kitab fathul mu’in banyak mendapat perhatian
ulama’ untuk menjelaskannya , setidaknya ada 2 khasiyah yang ada saat ini yaitu
kitab I’anah At-Tolibin yang terdiri dari 4 jilid tebal , karya syaikh abu
bakar syata ( W. 1310 H), dan kitab tarsyihul mustafidin karya syaikh sayyid
alawi assaqqof (W. 1335 H) .
3. Irsyadul ‘Ibad Ila sabilirrosyad isinya tentang masalah
fiqih , nasehat dan hikayat ,syarah dari kitab ini adalah Manahijul Imdad
setebal 2 jilid , karya ulama’ indonesia syaikh ihsan bin dahlan al-jampesi (W.
1952 M). terkait tentang hadits-hadits di kitab irsyadul ibad saat ini sudah di
tahqiq oleh seorang ulama’ muda asal indonesia syaikh badrian murid dari syaikh
nuruddin marbau al-banjari al-makki yang diterbitkan ma’had zain litafaqquh
fiddin untuk pertama kali tahun 2010 M .
4. Al-Isti’dad lil Maut Wasu’al Qubur , isinya tentang
persiapan bekal sebelum mati dan dahsyatnya pertanyaan qubur , kitab ini sudah
banyak terjemahannya .
5. Tuhfah Al-Mujtahidi fii Ba’adh Akhbar Al-Burtughali
(dalam bidang sejarah).
Tak banyak riwayat yang menjelaskan ketokohan dari Syekh
Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari, ulama asal Malabar, India
Selatan ini. Kalau ada, itu hanya sebatas mengungkapkan keterangannya dalam berbagai
karya yang ditulisnya.
Tak diketahui secara persis, kapan Syekh Zainuddin
Al-Malibari lahir. Bahkan, wafatnya pun muncul berbagai pendapat. Ia
diperkirakan meninggal dunia sekitar tahun 970-990 H dan di makamkan di
pinggiran kora Ponani, India.
Syekh Zainuddin Al-Malibari merupakan keturunan bangsa Arab.
Ia dikenal pula dengan nama Makhdum Thangal. Julukan ini dikaitkan dengan
daerah tempat dirinya tinggal. Ada yang menyebutny dengan nama Zainuddin
Makhdum, atau Zainuddin Thangal atau Makhdum Thangal. Julukan ini mencerminkan
keutamaan dan penghormatan masyarakat setempat kepada dirinya.
Masjid Agung Ponani atau Funani, adalah masjid Agung yang
pertama kali dibangun oleh Makhdum Thangal. Ia termasuk seorang ulama yang
mengikuti madzhab Syafi’i. Tidak seperti masjid masa kini, Masjid Agung Ponani
ini menggabungkan arsitektur lokal dengan arsitektur Hindu. Hal ini
dikarenakan, Islam masuk ke India yang dibawa oleh pedagang Arab yang datang
melalui laut dan diterima oleh raja-raja Hindu setempat. Makam Syekh Zainuddin
Al-Malibari terletak di samping masjid.
Tak hanya arsitektur masjid, masyarakat Muslim di India ini
juga mengadopsi gaya bangunan, pakaian dan makanan dengan menyesuaikan pada
kondisi yang ada.
Syekh Zainuddin Al-Malibari, selain dikenal sebagai ulama
fikih, ia juga dikenal sebagai ahli tasawuf, sejarah dan sastra. Karyanya Fath
al-Mu’in (Pintu Pertolongan), adalah syarah (komentar) atas kitab Qurrat al-Ayn
Hidayat al-Azkiya ila Thariq al-Auliya, serta Irsyad Al-Ibad ila Sabili al-Rasyad,
dan Tuhfat al-Mujahidin.
Seperti kebanyakan ulama lainnya, Syekh Zainuddin
Al-Malibari juga dikenal sebagai ulama yang sangat tegas, kritis, konsisten,
dan memiliki pendirian yang teguh. Ia pernah menjadi seorang hakim dan
penasehat kerajaan, dan diplomat.
***
Penyusun Fathul Mu’in ini lahir dan besar di lingkungan
keluarga ulama. Ayahnya, Syaikh Abdul Aziz, adalah seorang ulama kenamaan yang
juga memiliki karya yang dikenal di dunia Islam. Karyanya antara lain kitab
Irsyadul Alba’ dan Maslakul Adzkiya’, keduanya syarah atas kitab Hidayatul
Adzkiya’, yang ditulis oleh ayahandanya sendiri, Syaikh Zainuddin bin Ali, yang
dikenal dengan julukan “Zainuddin Al Awwal”.
Syaikh Zainudin bin Ali atau Zainuddin Al-Awwal sendiri
adalah juga ulama besar yang karya-karyanya menjadi rujukan umat Islam di
seluruh dunia. Karyanya yang paling termasyhur antara lain kitab Hidayatul
Adzkiya’, yang disyarah oleh banyak ulama setelahnya, di antaranya oleh
Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha dalam kitabnya yang berjudul Kifaytul Atqiya’
wa Minhaj al-Ashfiya’ Syarh ‘ala Hidayah al-Adzkiya’.
Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz Al Malibari atau yang
dikenal dengan “Zainuddin Ats Tsani” ini merupakan keturunan bangsa Arab.
Beliau dikenal pula dengan julukan “Makhdum Thangal”. Julukan ini dikaitkan
dengan daerah tempat dirinya tinggal. Ada juga yang menyebutnya dengan nama
“Zainuddin Makhdum”, atau “Zainuddin Thangal”. Julukan ini mencerminkan
keutamaan dan penghormatan masyarakat setempat kepada dirinya.
Sebagai ulama yang memiliki keluhuran ilmu, Syaikh Zainuddin
Al-Malibari menyajikan pemahaman dan pemikirannya tentang agama ke dalam
berbagai kitab. Mulai dari bidang aqidah, fiqih, tasawwuf, sejarah, hingga
sastra.
Syeh Zeinuddin al Malibari merupakan ulama' yang di lahirkan
di daerah Malabar, India Selatan. Tak diketahui secara persis, kapan Syekh
Zainuddin Al-Malibari lahir. Bahkan, wafatnya pun muncul berbagai pendapat.
Beliau diperkirakan meninggal dunia sekitar tahun 970-990 H dan di makamkan di
pinggiran kota Ponani, India. Tepatnya terletak di samping masjid Agung Ponani
atau Funani.
Beliau adalah cucu dari Syeh Zeinuddin bin Ali pengarang
kitab Hidayatul Adzkiya' (I'anah I/151), sejak kecil, Syeh Zaenuddin al
malibari telah terdidik oleh keluarga agamis, selain sekolah di al Madrasy yang
didirikan oleh kakek beliau, beluau juga berguru kepada beberapa Ulama' Arab,
termasuknya adalah Ibnu Hajar al Haitami dan Ibnu Ziad.
Perlu di ketahui, bahwa sesungguhnya nama ayah beliau
bukanlah Abdul Aziz sebagaimana tertulis dalam kitab I'anatut Tholibin (I'anah
I/7), melainkan nama ayahnya adalah Muhammad al Ghozali, dan Abdul Aziz adalah
paman beliau sebagaimana pengakuan beliau dalam Muqoddimah Kitab al Ajwibah .
Dan penggunaan paman sebagai Ayah adalah hal yang sangat lumrah.
Syekh Zainuddin Al-Malibari, selain dikenal sebagai ulama
fikih yang mengikuti madzhab Syafi'i, beliau juga dikenal sebagai ahli tasawuf,
sejarah dan sastra. Beliau mempunya beberapa karya dalam beberapa literarur
Ilmu, dan di antara karya-karya beliau adlah Fath al-Mu’in syarah atas kitab
karyanya sendiri Qurrat al-Ayn Fi Muhimmati al Din, Hidayat al-Azkiya ila Thariq
al-Auliya, serta Irsyad Al-Ibad ila Sabili al-Rasyad, dan Tuhfat al-Mujahidin.
Seperti kebanyakan ulama lainnya, Syekh Zainuddin
Al-Malibari juga dikenal sebagai ulama yang sangat tegas, kritis, konsisten,
dan memiliki pendirian yang teguh. Ia pernah menjadi seorang hakim dan
penasehat kerajaan, dan diplomat.
Manhaj kitab.
Kitab Fathul Mu’in ini tak jauh beda dengan kitab-kitab fiqh
yang lain, yaitu membahas semua permasalahan Fiqhiyah, mulai dari Ubudiyah,
Mu’amalah, Munakahah dan juga Jinayah dengan di klasifikasikan sesuai dengan
bab-babnya.
Tapi dalam kitab fathul Mu'in ini, terkadang tidak
menyebutkan sebuah pembahasan yang sebenarnya sangat penting untuk di sebutkan,
sehingga, sering sekali Syeh Abu Bakar al Syatho dalam Hasyiyah I'anatu al
Tholibin mengkritik tentang tidak adanya penyebutan tersebut, sebagaimana dalam
permasaahan Ijtihad (I'anah I/45) Istihadloh (I'anah I/90), Istikhlaf (I'anah
II/111) Ju'alah (I'anah III/146), atau penyebutan yang kurang sempurna. Bahkan
ada sebuah masalah yang telah di sebutkan dalam judul ternyata tidak masuk
dalam pembahasan, yaitu masalah menjual buah-buahan "Bai'u al
Tsimar".
Hal di atas karena permasalahan tersebut di anggap tidak
penting oleh pengarang, karena jarang terjadi pada masa itu atau kurang diperhatikan
di kalangan awam, hal itu tercermin dari jawaban beliau ketika ditanya
"kenapa hanya sedikit membahas tentang Haid (tidak membahas Istihadloh)?
Beliau menjawab: "orang laki-laki tidak haid, dan orang perempuan tidak
bertanya". Dari jawaban beliau di atas, memnunjukkan bahwa beliau
mengarang kitab fathul Mu'in memang di peruntukkan oleh orang-orang yang
membutuhkan, bukan sekedar untuk di kaji.
Jika kitab-kitab Fiqh biasanya memulai pembahasan dengan
Kitab Thoharoh, sebagai intrumen penting sebelum melakukan Ibadah Sholat,
tetapi kitab Fathul Mu’in ini mengawali pembahasan langsung ke Kitab Sholat,
sebagai Ibadah yang paling fital dalam agama Islam, dengan Mangawali pembahasan
Sholat, secara otomatis juga membahas Thoharoh, karena Sholat tidak akan Shah
kecuali dengan Thoharoh.
Dalam pembahasan Sholat, kitab ini lebih enak untuk di
telaah, karena dalam membahas kaifiyah atau tata cara Sholat, kitab Fathul
Mu’in ini lebih runtut di banding dengan kitab lain, karena dalam penyebutan,
tidak di klasifikasikan sesuai dengan Fardlu dan Sunahnya, melainkan di
sebutkan sesuai dengan letak kaifiyah itu, metode seperti ini juga di terapkan
dalam pembahasan Haji dan Umroh.
Terkadang dalam kitab ini juga terjadi pengulangan
pembahasan, sebagaimana dalam masalah membaca keras didalam masjid, masalah ini
sempat di bahas dua kali yang pertama pada Fashl Fi Shifati Sholat dan pada
Fasl Fi Sholati al Jama'ah. Mungkin hal ini untuk lebih memperjelas masalah
yang ada, terbuki, dalam pembahasan yang kedua, beliau lebih memerinci
pembahasan dengan menampilkan perkhilafan antara Imam Nawwawi dan Ibnu Hajar.
Dalam kitab Fathul mu'in ini juga terdapat banyak sekali
praktek perselisihan (mukhosamah), baik dalam bab Mu'amalah maliyah atau dalam
Bab Munakahah, yang sebenarnya jika kita teliti, pembahasan antara yang satu
dan lain tidaklah jauh berbeda. Hal ini di dasari oleh banyaknya kejadian
Mukhoshomah pada masa itu atau karena itu merupakan perkara yang trend di
kalangan pelajar dan banyak ditanyakan pada ulama'. Walaupun begitu, pengarang
tetap berusaha menampilkan hal-hal tersebut dengan ibarat yang sangat ringkas
tetapi tetap mengena.
Dan termasuk keistimewaan kitab Fathul Mu'in ini adalah
menyebutkan beberapa perkhilafan di antara ulama' dan di ambil dari kitab-kitab
mereka yang mu'tabar dengan mentarjih pendapat mereka baik secara Shorih/jelas
atau malah melatih kecerdasan pembaca dengan hanya memberikan Isyarat atau
ibarat yang samar. Dan kebanyakan, pendapat yang diikuti oleh pengarang adalah
pendapat guru belau yaitu Syeh Ibnu Hajar al Haitamy, dan guru inilah yang di
kehendaki ketika pengarang menyebut Guruku (Syekhuna).
Penggunaan Istilah Syekhuna untuk sang maha guru yaitu Ibnu
Hajar, ini memunjukkan betapa beliau sangat menghormati gurunya ini dan
mengenggapnya sebagai orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan intelektual
beliau.
Kesimpulan
Kitab fathul Mu'in ini adalah kitab yang sangat barokah
sekali, dengan format dan manhaj yang ditawarkan tentunya mempunyai sebuah
rahasia yang tidak bisa di mengerti oleh orang lain. Sehingga banyak sekali
ulama' yang mengaguminya, bahakan ada yang mengatakan bahwa kitab fathul Mu'in
ini adalah Kitab al Tuhfah al Tsani atau Kitab Tuhfah yang kedua, selain karena
pengarang adalah murid dari pengarang kitab Tuhfah, juga karena kitab Fathul
Mu'in ini juga banyak sekali mengadopsi masalah dari kitab al Tuhfah.
Tulisan ini bukanlah untuk mengkritik atau mencari
kesalahan-kesalahan yang ada, walaupun secara gamblang pengarang memperbolehkan
siapapun untuk mengoreksi kitab beliau asal dengan cara yang tepat, tapi
bagaimana pun kita tetap harus berbaik sangka dengan pengarang, karena hanya
dengan itu kita bisa mengambil manfaat:
وكل من لم يعتقد لن ينتفع
Dan tulisan ini hanya bentuk analisa dari penulis dengan digabungkan dengan literatur yang kami miliki, jadi bila terjadi kesalahan dalam
analisa kami mohon untuk koreksi bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar